Saturday, January 26, 2008

Inilah Musuh Para Blogger

Apa sajakah musuh para blogger? Pertanyaan ini coba saya lemparkan kepada siapa saja yang merasa bahwa menulis di blog adalah bagian dari hidupnya. Saya sendiri? Iya. Walaupun kenyataannya koleksi posting saya di dalam blog ini masih jauh dibilang layak untuk seorang blogger profesional, namun setidaknya saya masih merasa memiliki harapan dan kemauan untuk tetap menulis.

Pertanyaan di atas bukan bermaksud untuk mencari musuh di antara sesama para blogger, namun lebih kepada hal-hal yang menjadi rintangan, hambatan, dan kendala para blogger dalam mewujudkan segala ide dan keinginannya menjadi sebuah posting dalam blog.

1. Mati listrik
Mengapa saya menempatkan hal ini sebagai urutan pertama? Ada dua penjelasan dari saya sendiri. Secara umum, listrik merupakan sumber kehidupan dari komputer dan internet. Tak ada listrik, tak ada komputer yang hidup, tak ada koneksi internet,dan pasti tak ada tambahan posting pada blog.

Secara pribadi, saya menulis posting ini tepat setelah listrik kos saya di Pogung Lor baru saja hidup dari pemadaman bergilir. Menjengkelkan memang, padahal sebelumnya saat pulang dari kantor, saya sudah berencana dengan pasti untuk berselancar dengan perambah Mozilla Firefox saya, mencari sumber inspirasi content baru untuk blog. Namun kenyataan berkata lain. Terpaksa saya menidurkan diri dalam kegelapan.

Namun untungnya, mati listrik kali ini justru membuat saya menghasilkan satu buah posting yang sedang anda baca saat ini.

2. Malas
Berapa kali dalam sehari kita mendapatkan ide untuk menulis? Saya pribadi, satu buah ide setiap hari. Terkadang tidak ada. Namun, berapa jumlah posting yang ada sekarang dalam blog saya ini. Yang jelas jauh lebih sedikit dari jumlah hari yang telah saya lewati semenjak tanggal pertama kali saya berkenalan dan mendaftarkan diri dengan Blogger.

Mengapa bisa? Saya akan jawab sendiri bahwa saya adalah pemalas. Dan pemalas pasti punya seribu satu alasan untuk tidak mengerjakan apa yang seharusnya dia kerjakan. Sang pemalas ini timbul ketika sebuah ide mampir di dalam kepala, namun kemudian hanya berhenti di sana tanpa realisasi. Saya beralasan bahwa saya dapat mengerjakannya nanti sore atau nanti malam. Lalu ide tinggallah ide. Ketika suatu waktu saya menemukan orang lain menulis dengan ide sama yang pernah mampir, saya baru berkata: Shit!

Sementara saya tidak menghasilkan apa-apa.

3. Kritik
Siapakah yang tahan kepada kritik dan kontroversi? Saya tidak. Saya memiliki sebuah blog di WordPress yang saya mulai beberapa waktu yang lalu. Saya menulis seputar masalah kesehatan yang bahannya saya murni mengambil dari sebuah buku. Entah memang karena isinya menarik dan sesuai dengan kebutuhan beberapa orang, maka komentar mulai mengisi halaman blog saya dan bahkan bertanya lebih jauh tentang apa yang saya tulis. Sayangnya saya bukan berasal dari latar belakang kedokteran sehingga saya tidak mampu memberi respon lebih jauh.

Beberapa komentar kemudian hadir mengenai kualitas blog saya yang minim dengan visualisasi, dan hal-hal lain yang kurang berkenan dengan saya pribadi. Saya merasa terganggu sebab saya memang tidak terlalu menguasai tentang apa yang saya tulis. Saya pun merasa bersalah ,”Kenapa saya menulis blog semacam ini?”

Akhirnya saya menutup blog tersebut, dalam arti hanya saya dan beberapa teman yang mampu mengakses halamannya.

Saya belum mampu menenggang kritik.

4. Koneksi Internet
Hal ini mungkin sudah tersebutkan pada poin pertama, namun di sini ia berkaitan dengan kemampuan para blogger untuk mengakses internet. Saat ini perkembangan internet sudah jauh lebih baik daripada 2 tahun yang lalu.

Buat blogger yang masih nomaden, dalam arti bergerilya memakai jasa warnet, berinternet sudah tidak harus berhadapan dengan monitor tua kualitas VGA dengan tempat duduk plastik seadanya. Warnet sekarang sudah berintegrasi dengan fungsi-fungsi kenyamanan sebuah kafe, dan kecepatan akses yang tidak bisa dibilang lemot. Bagi blogger yang memilih untuk menggunakan koneksi pribadi, beberapa ISP sudah berlomba menawarkan program berlangganan dengan tarif yang cukup terjangkau.

Lalu kendalanya? Okey, bagi para blogger nomaden maka untuk bisa mengakses internet mereka harus berhitung tidak hanya pada biaya akses internet per jamnya, tapi juga pada akses dan biaya transportasi dari tempat tinggal menuju warung internet, biaya parkir, dan biaya ngemil selama berada di warnet. Belum terhitung juga kendala jika ternyata warnet yang dituju sedang penuh sehingga memerlukan fasilitas ‘antri’ agar blogger bisa mengakses internet.

Memilih akses internet pribadi juga berarti harus menyiapkan biaya yang bukan sedikit untuk bisa menikmatinya. Taruhlah butuh semurah-murahnya Rp 400.ooo,- untuk membeli sebuah handphone modem GPRS bekas seri Motorola C380 yang sekarang di pasaran mulai susah untuk ditemui. Itu dengan asumsi bahwa sang blogger sudah memiliki sebuah unit PC atau notebook. Kalau belum, ya beli dulu, dong.

Kendala lain adalah koneksi dari ISP sendiri yang terkadang membuat blogger pusing tujuh keliling. Pada saat-saat tertentu, koneksi GPRS bisa saja down beberapa waktu, seperti yang dialami teman-teman pengguna centrin kemarin hari. Saat itu, alternatif terbaik untuk bisa blogging adalah melalui warnet.

Maka, pada warnetlah blogger kembali.

Sebenarnya saya ingin menambahkan satu buah hal lagi dalam daftar ini: pacaran. Namun hal tersebut bukan hal yang umum mengingat tidak semua blogger memiliki pacar dan beberapa blogger pun sudah berkeluarga [sehingga tidak lagi berpacaran]. Lagipula pacaran bukan sebuah rintangan, melainkan sebuah kebutuhan biologis untuk menyelingi rutinitas blogging yang terkadang membuat kepala ruwet. A called of nature.

0 komentar:

Design by Dzelque Blogger Templates 2007-2008