Monday, September 24, 2007

Perihal Insya 4JJI, Judas, dan Jesus Christ

Bukan Indonesia namanya kalau tidak familiar dengan yang namanya singkatan dan akronim. Mulai dari yang sederhana dari KD, AADC, PSK, TNI, TKI, JPS, KUD, WIL, PKK, SBY, hingga yang njelimet seperti menko ekuin, pangarmatim, dan ipoleksosbudhankam. Bentukan singkatan dan akronim tersebut begitu kompleksnya hingga terkadang ia berubah wujud sebagai sebuah kata yang memiliki asosiasi terhadap sesuatu.

Jika saya sedang berjalan dengan santai dan seketika ada seseorang yang berpapasan dengan saya melihat dengan pandangan tajam seraya bertanya dalam nada bass yang berat: ”Kamu PKI, ya?” Maka yang terjadi adalah aliran adrenalin dan ritme denyut jantung saya yang meningkat, sementara di dalam kepala sibuk memutar ulang rekaman adegan-adegan dalam film “Pemberontakan G30S/PKI” yang dulu selalu saya nantikan penayangannya setiap tanggal 30 September. Film tersebut berikut buku-buku pelajaran sejarah yang saya baca akhirnya mengidentifikasi singkatan PKI dengan kekejaman, darah, tak bertuhan, dan setan. Ya, PKI adalah setan. Bukan lagi singkatan dari nama sebuah organisasi politik Partai Komunis Indonesia yang pernah berjaya pada pertengahan abad ke-20 sejarah Indonesia.

Mungkin karena saking familiarnya kita dengan singkatan dan akronim, sehingga terkadang kita membuat kepanjangan dari sebuah kata yang sebenarnya bukan singkatan. Waktu kecil, saya dan teman-teman kerap memanjangkan kata DJARUM dengan demi janda aku rela untuk mati, ARDATH adalah aku rela diperkosa asal tidak hamil, dan GBHN adalah kependekan dari gara gara bola hancur negara. Ungkapan-ungkapan yang kerap nuansa seks, mengingat kami adalah sekelompok anak kecil yang kelak akrab dengan jerawat dan masturbasi dalam dua tahun ke depan. Lalu, salah seorang teman kami yang lain nyeletuk
“Kamu tau kepanjangan KANSAS?”
“Nggak... apaan?”
“Kami Anak Negara, Suka Akan Suharto”
“Hahaahaaa...”, kami tertawa lepas, dan teman kamipun melanjutkan
“Klo dibalik jadi SASNAK, ada kepanjangannya juga, loh..”
“Apaan?”, sahut kami bersemangat
“Siapa Anti Suharto Negara Akan Kacau”
“Haahaa...”, kami kembali tertawa.
Pada waktu itu, kami begitu senang jika ada salah satu di antara kami yang memiliki perbendaharaan singkatan yang baru setiap harinya. Termasuk singkatan KANSAS dan SASNAK tersebut. Kami hanya menganggapnya sebagai sesuatu yang lucu.
Namun, saat ini ketika saya mengingatnya kembali, saya merasakan nuansa politis yang kental dari permainan singkatan tersebut. Entah, apakah teman saya terlampau cepat dewasa hingga ia mampu menciptakan kepanjangan singkatan tersebut. Mungkin ia mencuri dengar dari bapaknya yang pengagum dan pendukung Presiden Suharto . Mungkin....

Tukul says”,Kembali ke lap... “

Nah, siang tadi saya menerima e-mail dari sepupu saya di Kalimantan. Dia memang sering mem forward berbagai e-mail unik yang diterimanya dari berbagai rekan dan kustomernya. Biasanya content-nya berupa gambar-gambar lucu, video kecelakaan, atau artikel-artikel tentang introspeksi diri. Namun, kali ini isinya berupa bahasan tentang sesuatu singkatan yang kerap mampir di ponsel saya. Isinya begini:

FYI

Sekedar Sharing..

Wallahualam..

Hati hati mengunakan singkatan pada saat SMS, seperti contoh ini..Kita sering mendapatkan atau menuliskan kata INSYA 4JJI (Insya Alloh), Tahu gak apa TU arti 4JJI ??? Berikut sahabat Ana menulis : Eska Said: tulisan 4JJI / 4jji kpanjangan dari FOR JUDAS, JESUS, ISA AL MASIH. Naudzubilllahimindzalik. Smoga qt bisa lebih hati2 menggunakan singkatan sms. Tolong sebarkan, please.. That's urgent!!!

Regards
Malamnya teman satu kos saya menunjukkan SMS yang persis sama dengan apa yang saya baca tadi siang. Apakah yang sedang terjadi?! Apakah benar ini ada hubungannya dengan isu Kristenisasi??

Secara praktis saya dapat menggambarkannya seperti berikut. Jika saya menerima sebuah SMS dari sahabat saya yang muslim menulis sebagai berikut: “Nanti sore saya akan datang. Insya 4JJI”. Maka saya akan menginterpretasikan karakter yang tertulis terakhir sebagai nama tuhan saya: Allah. Jadi membacanya adalah “Insya Allah” yang dapat diartikan bahwa segenap rencana dan keinginan kita tidak ada yang bisa menentukan dan memastikan kecuali Allah Sang Maha Menentukan.

Di sini saya melihat penggunaan karakter 4JJI atau 4jji adalah serupa dengan penggunaan emoticon :-) dan ;-P. Seperti yang kita ketahui bahwa penggunaan emoticon berfungsi sebagai pengganti gambar yang tidak dapat kita buat pada ponsel generasi 2G. Dikarenakan keterbatasan kemampuan editor teks SMS, maka kita akan mengetikkan :-) pada pesan sehingga si penerima akan melihat bahwa kita sedang tersenyum kepadanya, alih-alih membacanya sebagai titik koma, minus, dan kurung tutup.

Karena ponsel teman saya yang muslim tidak mendukung huruf hijaiyah [sama seperti ponsel saya] maka ketika dia mengetikkan karakter 4JJI, maka saya sebagai penerima pesan akan langsung melihat karakter tersebut sebagai bentuk bacaan Allah. Bukan membacanya dengan EMPAT J J I ! Apalagi membacanya sebagai FOR JUDAS JESUS ISA AL MASIH..!

Maka saya menganggap bahwa isi pesan itu adalah mengada-ada alias Hoax. Semacam pemerkosaan bahasa [language abuse] yang bertujuan menyudutkan sesuatu pihak yang memiliki kepentingan tertentu. Wallahualam. Saya tidak tahu jelas darimana rekan Eska Said seperti yang disebutkan dalam e-mail tersebut bisa memberikan kepanjangan dari karakter 4JJI. Sebaliknya, menurut saya bentukan karakter 4JJI tersebut melambangkan kebesaran Allah sendiri yang ternyata nama-Nya pun dapat ditemukan dalam telinga seorang bayi, dahan pohon, di dalam irisan buah terong, dan juga di dalam bentuk abjad latin.

Hal lain yang menurut saya melemahkan pernyataan tersebut adalah ketidaksesuaian bahasa, dalam arti penggunaan bahasa arab dan inggris dalam satu istilah. Secara umum, kaum muslim mengerti bahwa “Insya Allah” [dua-duanya kata arab] berarti “atas kehendak Allah”. Maka, “Insya 4JJI” [satu kata arab, satu kata inggris] dibaca “Insya For Judas Jesus Isa Almasih” yang berarti “atas kehendak untuk Yudas Yesus Isa almasih”. Bahasa apa ini?? Arablish? Seperti orang-orang Singapore yang memakai bahasa Singlish Ya, maybe, laah...

Maka, berhati-hatilah jika anda menerima pesan e-mail atau SMS yang menggunakan tag “FYI” atau “Information” atau “Please forward”. Sesungguhnya kita berada di dunia teknologi informasi dengan kemampuan web 2.0 di mana setiap orang bisa mengemukakan pendapat, alasan, argumen, pembelaan, tuduhan, dan bahkan hujatan yang dalam hitungan detik bisa dibaca oleh sedemikian banyak orang dalam waktu bersamaan. Dan hoax seperti “mouse optik menyebabkan kanker telapak tangan” begitu mudah diciptakan hanya dengan menyebutkan “sebuah penelitian di jerman menyatakan...”. Jerman yang mana? Peneliti yang mana?

Tidak ada polisi data di dunia maya yang menyatakan bahwa informasi ini benar atau salah. Maka, yang menjadi polisi adalah kita, yang kemudian akan menentukan apakah informasi ini layak untuk di forward atau tidak. Sekali lagi, Wallahualam, jika rekan Eska Said ternyata benar dalam hal ini. Tetapi yang jelas, dia sudah sedikit merusak penafsiran saya [dan mungkin beberapa kawan muslim yang menerima pesan serupa] terhadap bentukan karakter 4JJI.

Note:
Pada kali yang lain, teman saya yang punya singkatan KANSAS dan SASNAK tersebut menghampiri kami dan mengemukakan singkatan barunya. Majalah HAI adalah kependekan dari “Hancurkan Agama Islam”. Kali ini saya dan teman-teman tidak tertawa. Agak sedikit ngeri saya membayangkan hal tersebut. Entah siapa subjek yang berniat menghancurkan agama saya tersebut, namun sepanjang saat ini yang saya tahu majalah HAI memang selalu menampilkan potret-potret gadis muda yang menggiurkan. Selalu saja membuat saya ingin bermasturbasi. Baca selengkapnya..

Sunday, August 5, 2007

The Banner Troublemaker

Ini adalah cerita tentang sebuah benda yang sangat lazim ditemui di sepanjang jalan pada kota-kota di mana manusia biasa menunggang ‘kuda dengan kentut karbon monoksida’. Dia hadir di setiap perempatan jaln, di atas pos polisi, di bawah flyover, di depan warung lesehan gudeg, lalu berjejer centang perenang melintang jalan hingga kita tidak mampu melihat apakah lampu lalulintas sudah berubah hijau atau belum.

Makhluk bernama spanduk ini memang serupa tumbuhan merambat yang dalam semalam mampu beranakpinak dan serta merta menambatkan sulur-sulurnya pada setiap cagak di dalam hutan yang bernama kota. Dia mudah hidup namun tak mudah mati. Padahal menurut undang-undang, ia hanya boleh hidup selama empatbelas hari. Namun, begitu gigihnya ia beradaptasi dengan lingkungan sekitar, sehingga populasinya begitu cepat bertumbuh, ratusan hingga ribuan, sampai-sampai petugas dinas pendapatan daerah tak mampu lagi menghitung berapa banyak spanduk yang harus diberangus. Mati satu tumbuh sepuluhribu.

Lihatlah betapa makhluk ini memiliki sifat yang begitu unik: eksebsionis, suka pamer. Spanduk takkan mau hidup di mana tidak ada orang yang bisa melihatnya. Dan ada-ada saja caranya menarik perhatian. Mulai dari warna-warninya yang mencolok, hingga rangkaian kata-kata yang vulgar, erotis, mengajak, menggelitik, bertanya, dan bahkan memerintah. Simak saja contoh-contoh berikut:
  1. Presenting the most sexy and delicious girls [gadis yang seksi dan nikmat?]
  2. Pilih no.3! bersama kita membangun bangsa
  3. Rewel? Pegat!
  4. Buat teknologi, boleh poligami
  5. Pengen masak bareng Indra Bekti
Selain di tempat ramai, spanduk juga suka bertambat di tempat yang tinggi. Semakin tinggi sebuah cagak, semakin sukalah ia bertengger di sana. Maka, seringlah kita melihat begitu banyak spanduk saling bertumpuk di posisi paling atas. Hari ini dua, besok tiga, lusa lima. Kasihanlah spanduk yang tiba paling awal karena ia akan segera ditutupi oleh kawannya esok hari. Sebab tempat rendah mengandung banyak kerugian. Seorang pedagang pecel lele dapat saja merenggutnya untuk dijadikan sebagai penutup gerobak. Kali lain, seorang pemabuk yang kalap dapat meraihnya dengan mudah dan mengakhiri hidupnya dalam sobekan-sobekan.

Modernisasi dan kapitalisme adalah induk dan cikal bakal spanduk. Maka kota adalah tempat yang paling ideal untuk beranakpinak. Tetapi, kini ia mulai bertumbuh juga di desa. Sebab ia juga memiliki sifat yang serupa dengan induknya. Kapitalisme mengajarkan bahwa seseorang membeli bukan karena mereka ‘benar-benar’ membutuhkannnya, namun hanya karena ia ‘merasa’ membutuhkannya.

Ketika orang-orang menyaksikan bagaimana Deddy Mizwar dan Didi Petet meributkan ‘bebek’, maka merekapun membayangkan betapa mudahnya memindahkan diri hanya dengan memutar kunci, menginjak persneling, dan menarik kopel gas. Persuasi berlanjut ketika mereka melihat tetangganya mengendarai ‘bebek’ baru milik Deddy Mizwar. Akhirnya pandangan mereka tertumbuk pada sebuah spanduk yang terpancang di depan balai desa, yang mengatakan betapa mudahnya memiliki sebuah ‘bebek’ baru hanya dengan limaratus ribu. Maka berduyun-duyunlah orang desa menyerbu dealer, menukarkan enam bulan keringat mereka di ladang persawahan dengan sebuah ‘bebek’ baru yang minumnya seharga dengan sebungkus nasi padang duta minang.

Tetapi, spanduk terkadang berhati dermawan. Ketika gempa mengguncang, ia tidak lagi berdiri memamerkan diri, melainkan duduk menaungi manusia-manusia yang kehilangan rumahnya. Di kota-kota besar, para gelandangan kere dan tunawisma mengandalkan spanduk sebagai teman tidur di kolong jembatan. Agar tidak masuk angin ketika malam mendinginkan udara dan menebarkan penyakit paru. Dan beberapa aktivis perguruan tinggi pernah memakai baju dari bahan spanduk sebagai protes atas kesewenang-wenangan kapitalisme. Di sini spanduk senasib dengan Malin Kundang yang durhaka terhadap ibunya.

*****

Lalu di sinilah aku, duduk menghadap komputer. Dalam berbagai sifat positif dan negatif sang spanduk, aku: daniy!, telah melahirkan beribu-ribu dari mereka. Tuhan memberikan aku kemudahan dalam mengidentifikasi warna serta keahlian menarik garis dan kurva digital. Maka ditempatkanlah aku oleh-Nya sebagai seorang kreator grafis di sebuah perusahaan event organizer. Dan malam ini aku akan mendesain sebuah spanduk event pemeran hasil kerajinan lokal.

Nah, lo... dari tadi ngomongnya banyak negatif soal spanduk, tapi sekarang malah mau bikin spanduk?!

Ya... berpandangan negatif bukan berarti benci dan anti ‘kan? Masak seorang desainer grafis menolak permintaan atasannya untuk mendesain spanduk hanya karena ia merasa bahwa spanduk adalah bagian dari kapitalisme. Lagipula kupikir lebih baik aku mendukung promosi para pengrajin lokal itu yang begitu bangga dengan produk sandal jeraminya, ketika orang Indonesia yang lain juga membuat sandal [murahan] yang kemudian mereka cap dengan kata “converse”.

Terkadang kita memang harus berkompromi.
Baca selengkapnya..

Tuesday, July 31, 2007

Antara Aku, Chrisye, dan Aulia

Jress.. Kusulut lagi makhluk putih itu lalu kuhunjamkan sekian ribu miligram racun yang dikandungnya, tepat ke dalam-paru-paruku. Fiuhh... Nikmat. Pahit. Gurih. Puas. Sedikit batuk. Mata mengerjap sebab asap sesekali mampir ke selaput korneaku. Aneh... padahal kemarin sore diberitakan bahwa Chrisye baru saja masuk surga karena kegemarannya yang luar biasa akan benda yang sedang kupegang ini. Laknat. Nikmat.

Putih mereka menggelembung membebaskan diri dari liang hidung dan tenggorokanku. Bisa kudengar asap-asap itu berteriak dan tertawa-tawa. Hahahaaa... Terkadang mereka melambai kepadaku dalam keadaan membubung dan memecah di udara sambil berkata."Terimakasih, daniy!, telah membiarkan kami menjelajah, dalam, dalam sekali, hingga kami bertemu alveoli. Tapi, daniy! Beberapa dari kami tak mau kembali. Maka kami tinggalkan saja dia, melekat pada sekat paru-paru. Sekedar memperingatkan, mereka bisa berbuat jahat padamu, daniy! Mereka jahat. Jahat." Uhk..uhhkk.. Aku terbatuk. Sial. Asap laknat. Namun, usai memaki, kepada rokoklah tanganku kembali.

Pertama kali aku merokok, rasanya tidak enak. Pahit. Pusing. Lalu tanpa sengaja aku menemukan kenikmatannya setelah makan. Memang benar kata perokok-perokok senior nan profesional itu. Nikmat rokok timbul setelah makan. Tapi tak hanya pada saat itu saja rokok terasa nikmat. Sebagian perokok mengaku bahwa nikmat merokok ada bersama segelas kopi panas. Sebagian merokok setelah bangun pagi. Sebagian berkata bahwa nikmat merokok adalah ketika buang hajat. Untuk yang terakhir, aku tak setuju. Sebab, tak ada nikmatnya merokok sambil menghirup bau tinja.

Semakin hari semakin pandai saja aku merokok. Hari ini aku bisa merokok lewat hidung. Kali yang lain aku membuat lingkaran yang besar dari kepulan asap. Tapi, sayang, hingga sekarang aku belum bisa seperti Andy Lau yang dapat membolak-balik rokok di mulutnya hanya dengan bibir dan lidah. Kurasa aku bukan seorang perokok yang benar-benar profesional.

Tapi tak masalah, selama aku masih bisa merokok maka aku akan tetap bangga. Bangga? Ya, bangga. Karena merokok 'kan cowok banget. Ada yang bilang klo cowok nggak merokok maka ia banci. Padahal kebanyakan banci adalah perokok. Bullshit. Tapi aku percaya.

Maka...
Aku merokok setiap limabelas menit
Aku merokok setiap jam
Aku merokok setiap hari
Aku merokok setiap minggu
Aku merokok setiap bulan
Aku merokok setiap tahun
Aku merokok selamanya
Aku merokok ...
Hmmm... Selamanya? Selamanya??
Hmmm... [thinking mode ON]

I think not. I shall not smoke forever. Aku tidak boleh selamanya merokok. [angel mode]

Loh, kenapa? Merokok kan enak, daniy! [evil mode]

Well.... [me]

Lagian sekarang kamu dah gede. Dah bisa cari duit sendiri. Siapa yang bakal ngelarang kamu ngerokok? Klo jaman kamu sekolah dulu emang kudu ngumpet-ngumpet dari bokap. Tapi sekarang kamu kan dah dewasa. Orang dewasa boleh merokok. Sepuasnya. [evil mode]

Aha.. Jika orang dewasa dapat memilih untuk merokok, maka orang dewasa juga dapat memilih untuk tidak merokok!

[thinking mode OFF]

Aku menoleh ke sebelah kiriku. Aulia duduk memandangku dengan begitu sayangnya. Perempuanku itu begitu cantik. "Jangan jadi pengikut Chrisye ya, sayang..", ia meminta. Aku tersenyum kecil, membayangkan bahwa aku memang memiliki sebuah persamaan dengan Chrisye. Kami perokok. Dia sudah masuk surga. Aku belum. Dia sudah tidak punya waktu. Aku masih punya banyak waktu.

Ya. Aku akan menyakiti perempuanku secara perlahan. Aku memaksanya menjadi perokok pasif. Aku membunuh perempuanku. Mungkin juga aku akan membunuh anakku. Seharusnya ia mengisap susu, bukan asap rokokku. Ya Allah. Aku mau insyaf.

And tonight, I shall smoke the last.
Baca selengkapnya..

Wednesday, June 27, 2007

My First Motorola L6

Alhamdulillah, akhirnya malam ini saya bisa on-line juga. Padahal beberapa hari yang lalu, layanan internet saya masih saja impoten sebab perangkat modem handphone yang belum bisa kompromi. Sebuah motorola L6 yang saya dapatkan kurang lebih dua minggu yang lalu hampir saja menjadi barang tak berguna oleh sebab drivernya tak cocok dengan Windows XP saya.

Saya sedikit protes dengan pihak Motorola sebab mereka tidak memberikan driver, software, atau keterangan apapun atas perangkat yang telah saya beli. Memang sejak awal pembelian perangkat ponsel tersebut, tidak tersedia adanya software penunjang di dalam boxnya. Sudah banyak counter ponsel yang saya datangi dan saya tanyakan mengenai Motorola L6.

"Mas di dalam box-nya, ada apa saja?"

Dan jawaban yang saya terima selalu saja sama: Handphone L6, baterai, charger, dan kartu garansi. Beberapa menambahkan: "Saya bonusin MP3, deh"

"Ada CD softwarenya nggak, Mas?"

"Nggak ada. Tapi nyarinya gampang kok, Mas. Ke rental aja, pasti dapat."

Tapi bagaimanapun, lebih mudah berkata daripada berbuat. Saya telah jelajahi rental-rental di kota gudeg ini mulai dari Wahana hingga Istana dengan hasil nihil. Tak satupun yang memiliki driver untuk ponsel Motorola.

Tak kurang akal, saya melarikan diri ke warnet, mencari di dalam rimba dunia maya apakah ada driver untuk si Moto. Tempat pertama yang saya cari adalah situs merek ponsel yang saya beli: www.motorola.com. Tapi sayang, isinya bodong, cuman katalog produk, plus beberapa aplikasi games, minus driver]. Cari punya cari, googLe memberitahukan saya sebuah situs MobileAction yang memiliki driver USB modem untuk berbagai tipe ponsel. Gotcha ! Langsung saja saya download dari situsnya dan langsung saya cobakan pada komputer saya.

Hasilnya, komputer saya dapat mengenali si Motorola L6 sebagai USB modem. Kemudian dengan aplikasi MobTime Cell Phone Manager, saya dapat mengoneksikan si Moto dengan komputer untuk saling bertukar database phonebook, pesan SMS, gambar, dan ringtone. Tetapi masih ada satu masalah yang belum tuntas terselesaikan. Modem USB untuk Motorola tidak dapat melakukan koneksi internet melalui provider XL tempat saya berlangganan. Padahal menurut jaringan, koneksi internet GPRS saya sudah oke dan tidak ada masalah. Terbukti, ketika saya mencobakan kartu saya dengan ponsel Nokia 5300 lewat Nokia PC Suite-nya, saya dapat membuka Yahoo!Mail, Friendster, dan halaman situs apapun yang biasa saya akses lewat warnet. Tetapi ketika saya kembalikan kartu tersebut ke dalam si Moto, koneksi internet selalu gagal. Pesan yang muncul di WIndows adalah "Error 734: PPP Link Protocol was terminated".

Hufh.. Dua hari saya merasa kecewa dengan produk yang telah saya beli. Sebab, kenyataannya saya membeli produk tersebut bukan karena style-nya, kameranya, atau fitur MP3-nya. Saya butuh dia sebagai modem [GPRS class 10]. Artinya, jika ia kemudian ia tidak dapat berfungsi sebagai modem, maka sama saja dia tidak berguna. Saya telah mendatangi salah satu authorized dealer Motorola, dan saya mendapatkan sebuah jawaban yang kurang memuaskan. Masalah saya ditampung untuk kemudian di-forward ke kantor pusat di Jakarta.

Beruntunglah, kemudian saya bertemu dengan Pak Ahmad Daniyal. Dia ternyata juga pengguna Motorola sebagai modem internet. Tentu saja dia memiliki driver untuk modem USB Motorola.
Maka, malam ini legalah hati saya.
Saya bisa surfing internet, tanpa harus ke warnet.

PS: Bagi yang juga membutuhkan file driver motorola, silakan mengunduhnya di sini. Cara menginstall driver cukup mudah. Koneksikan ponsel Motorola anda ke komputer hingga taskbar menampilkan "Found Motorola L6". Seperti biasa, akan terbuka kotak dialog yang meminta kita untuk memilih lokasi driver. Pada tengah instalasi, Windows pasti akan memberi peringatan bahwa driver yang sedang di-install belum melewati proses "digital signing" oleh Windows. Klik saja "Continue Anyway", hingga proses instalasi selesai.

Tadaaa...!!
Insya Allah, handset Motorola anda akan siap digunakan sebagai modem.
Baca selengkapnya..

Thursday, June 1, 2006

Ketika Tanah Menari di Sabtu Pagi

Kala itu sabtu pagi di akhir bulan Mei, tanah menari, atap mencium tanah, dan suara gemuruh memukul-mukul gendang telinga, maka seketika yang muncul di setiap benak penduduk Jogja adalah sebuah kata: Merapi. Bagaimana tidak, bak seorang selebritis, makhluk bumi yang megah itu selalu menjadi topik utama di setiap terbitan surat kabar harian di Jogja. Keperkasaan yang ditunjukkan lewat atraksi wedhus gembel dan lava pijarnya, cukup membuat ratusan penghuni lereng gunung Merapi gentar dan berbondong-bondong mencari tempat aman di sebelah selatan. Maka, ketika tanah berguncang, penduduk Jogjakarta sontak memandang ke arah utara. Merapi njeblug!

Tetapi, siapa sangka ancaman yang sedang terjadi pada hari itu justru berasal dari selatan. Arah yang tidak diperhitungkan sebelumnya. Ki Joko Bodo menurut faham kebatinannya berkilah bahwa Kanjeng Ratu Kidul marah besar, sebab masyarakat Jogja dalam tempo terakhir hanya melempar pandang ke arah utara (baca: merapi), dan melupakan eksistensinya sebagai penguasa daerah selatan. Sedangkan BMG dan USGS sebagai penganut faham logika dan mekanika menuduh subduksi lempeng eurasia terhadap lempeng indo-australia sebagai pangkal getaran berkekuatan 5,9 skala richter tersebut.

Terlepas dari biang keladi gempa yang mengguncang DIY dan Jawa Tengah sabtu lalu, yang jelas saat ini statistik telah mencatat angka yang cukup fantastis. Sebanyak 5.000 nyawa melayang, 8.000 orang luka ringan dan berat, serta 48.000 buah bangunan rata dengan tanah. Angka tersebut belum termasuk kerugian psikis dan trauma yang dialami oleh masyarakat Jogja pasca-bencana gempa.

Berangkat dari bencana yang telah menorehkan begitu banyak luka dan duka, manusia kembali disadarkan akan eksistensinya sebagai makhluk dengan kemampuan yang sangat terbatas. Betapa dramatis sebuah tayangan breaking news di salah satu stasiun televisi, yang menampilkan ribuan orang berlari menjauhi Pantai Selatan. Dalam sebuah close up shot, seorang ibu mbrebes mili sambil berkata “Aku arep neng ngendi?”. Mereka tidak tahu ke mana mereka akan pergi, kecuali berbekal asumsi bahwa mereka harus berlari ke arah yang lebih tinggi untuk menjauhi bahaya. Jikalau benar terjadi gelombang tsunami, secara matematis mereka tidak akan selamat, karena kecepatan berlari mereka kalah jauh daripada luncuran sang tsunami.

Beberapa jam kemudian, rumahsakit dan klinik telah menjadi tempat yang paling ramai daripada mall dan pusat perbelanjaan. Tidak hanya yang menderita patah tulang ataupun cedera kepala, namun juga tubuh-tubuh tak bernyawa ditimpa reruntuhan bangunan yang selama ini melindungi mereka. Keterbatasan daya tampung rumahsakit serta jumlah tenaga medis, memerlambat penanganan atas korban gempa. Hingga hari kelima sejak gempa melanda, beberapa dusun dan kecamatan di Kabupaten Bantul—daerah gempa dengan kerusakan terparah—belum tersentuh oleh bantuan yang datang bertubi-tubi dari dalam maupun luar negeri. Semua terantuk pada keterbatasan akan distribusi bantuan.

Allahu Akbar... Allahu Akbar...Rangkaian frase yang digumamkan dari mulut seorang korban gempa saat dipapah oleh seorang perwira polisi dan seorang sipil, seketika adalah ucapan yang keluar dari lubuk hati manusia yang paling dalam. Akhirnya kita pasrah dan mengakui kebesaran-Nya secara tulus dan sebenar-benarnya. Kesadaran akan keberadaan kita sebagai makhluk yang super-terbatas, dibangkitkan oleh sebuah getaran ‘kecil’ dari palung Samudera Hindia.
Baca selengkapnya..

Design by Dzelque Blogger Templates 2007-2008