Wednesday, June 27, 2007

My First Motorola L6

Alhamdulillah, akhirnya malam ini saya bisa on-line juga. Padahal beberapa hari yang lalu, layanan internet saya masih saja impoten sebab perangkat modem handphone yang belum bisa kompromi. Sebuah motorola L6 yang saya dapatkan kurang lebih dua minggu yang lalu hampir saja menjadi barang tak berguna oleh sebab drivernya tak cocok dengan Windows XP saya.

Saya sedikit protes dengan pihak Motorola sebab mereka tidak memberikan driver, software, atau keterangan apapun atas perangkat yang telah saya beli. Memang sejak awal pembelian perangkat ponsel tersebut, tidak tersedia adanya software penunjang di dalam boxnya. Sudah banyak counter ponsel yang saya datangi dan saya tanyakan mengenai Motorola L6.

"Mas di dalam box-nya, ada apa saja?"

Dan jawaban yang saya terima selalu saja sama: Handphone L6, baterai, charger, dan kartu garansi. Beberapa menambahkan: "Saya bonusin MP3, deh"

"Ada CD softwarenya nggak, Mas?"

"Nggak ada. Tapi nyarinya gampang kok, Mas. Ke rental aja, pasti dapat."

Tapi bagaimanapun, lebih mudah berkata daripada berbuat. Saya telah jelajahi rental-rental di kota gudeg ini mulai dari Wahana hingga Istana dengan hasil nihil. Tak satupun yang memiliki driver untuk ponsel Motorola.

Tak kurang akal, saya melarikan diri ke warnet, mencari di dalam rimba dunia maya apakah ada driver untuk si Moto. Tempat pertama yang saya cari adalah situs merek ponsel yang saya beli: www.motorola.com. Tapi sayang, isinya bodong, cuman katalog produk, plus beberapa aplikasi games, minus driver]. Cari punya cari, googLe memberitahukan saya sebuah situs MobileAction yang memiliki driver USB modem untuk berbagai tipe ponsel. Gotcha ! Langsung saja saya download dari situsnya dan langsung saya cobakan pada komputer saya.

Hasilnya, komputer saya dapat mengenali si Motorola L6 sebagai USB modem. Kemudian dengan aplikasi MobTime Cell Phone Manager, saya dapat mengoneksikan si Moto dengan komputer untuk saling bertukar database phonebook, pesan SMS, gambar, dan ringtone. Tetapi masih ada satu masalah yang belum tuntas terselesaikan. Modem USB untuk Motorola tidak dapat melakukan koneksi internet melalui provider XL tempat saya berlangganan. Padahal menurut jaringan, koneksi internet GPRS saya sudah oke dan tidak ada masalah. Terbukti, ketika saya mencobakan kartu saya dengan ponsel Nokia 5300 lewat Nokia PC Suite-nya, saya dapat membuka Yahoo!Mail, Friendster, dan halaman situs apapun yang biasa saya akses lewat warnet. Tetapi ketika saya kembalikan kartu tersebut ke dalam si Moto, koneksi internet selalu gagal. Pesan yang muncul di WIndows adalah "Error 734: PPP Link Protocol was terminated".

Hufh.. Dua hari saya merasa kecewa dengan produk yang telah saya beli. Sebab, kenyataannya saya membeli produk tersebut bukan karena style-nya, kameranya, atau fitur MP3-nya. Saya butuh dia sebagai modem [GPRS class 10]. Artinya, jika ia kemudian ia tidak dapat berfungsi sebagai modem, maka sama saja dia tidak berguna. Saya telah mendatangi salah satu authorized dealer Motorola, dan saya mendapatkan sebuah jawaban yang kurang memuaskan. Masalah saya ditampung untuk kemudian di-forward ke kantor pusat di Jakarta.

Beruntunglah, kemudian saya bertemu dengan Pak Ahmad Daniyal. Dia ternyata juga pengguna Motorola sebagai modem internet. Tentu saja dia memiliki driver untuk modem USB Motorola.
Maka, malam ini legalah hati saya.
Saya bisa surfing internet, tanpa harus ke warnet.

PS: Bagi yang juga membutuhkan file driver motorola, silakan mengunduhnya di sini. Cara menginstall driver cukup mudah. Koneksikan ponsel Motorola anda ke komputer hingga taskbar menampilkan "Found Motorola L6". Seperti biasa, akan terbuka kotak dialog yang meminta kita untuk memilih lokasi driver. Pada tengah instalasi, Windows pasti akan memberi peringatan bahwa driver yang sedang di-install belum melewati proses "digital signing" oleh Windows. Klik saja "Continue Anyway", hingga proses instalasi selesai.

Tadaaa...!!
Insya Allah, handset Motorola anda akan siap digunakan sebagai modem.
Baca selengkapnya..

Thursday, June 1, 2006

Ketika Tanah Menari di Sabtu Pagi

Kala itu sabtu pagi di akhir bulan Mei, tanah menari, atap mencium tanah, dan suara gemuruh memukul-mukul gendang telinga, maka seketika yang muncul di setiap benak penduduk Jogja adalah sebuah kata: Merapi. Bagaimana tidak, bak seorang selebritis, makhluk bumi yang megah itu selalu menjadi topik utama di setiap terbitan surat kabar harian di Jogja. Keperkasaan yang ditunjukkan lewat atraksi wedhus gembel dan lava pijarnya, cukup membuat ratusan penghuni lereng gunung Merapi gentar dan berbondong-bondong mencari tempat aman di sebelah selatan. Maka, ketika tanah berguncang, penduduk Jogjakarta sontak memandang ke arah utara. Merapi njeblug!

Tetapi, siapa sangka ancaman yang sedang terjadi pada hari itu justru berasal dari selatan. Arah yang tidak diperhitungkan sebelumnya. Ki Joko Bodo menurut faham kebatinannya berkilah bahwa Kanjeng Ratu Kidul marah besar, sebab masyarakat Jogja dalam tempo terakhir hanya melempar pandang ke arah utara (baca: merapi), dan melupakan eksistensinya sebagai penguasa daerah selatan. Sedangkan BMG dan USGS sebagai penganut faham logika dan mekanika menuduh subduksi lempeng eurasia terhadap lempeng indo-australia sebagai pangkal getaran berkekuatan 5,9 skala richter tersebut.

Terlepas dari biang keladi gempa yang mengguncang DIY dan Jawa Tengah sabtu lalu, yang jelas saat ini statistik telah mencatat angka yang cukup fantastis. Sebanyak 5.000 nyawa melayang, 8.000 orang luka ringan dan berat, serta 48.000 buah bangunan rata dengan tanah. Angka tersebut belum termasuk kerugian psikis dan trauma yang dialami oleh masyarakat Jogja pasca-bencana gempa.

Berangkat dari bencana yang telah menorehkan begitu banyak luka dan duka, manusia kembali disadarkan akan eksistensinya sebagai makhluk dengan kemampuan yang sangat terbatas. Betapa dramatis sebuah tayangan breaking news di salah satu stasiun televisi, yang menampilkan ribuan orang berlari menjauhi Pantai Selatan. Dalam sebuah close up shot, seorang ibu mbrebes mili sambil berkata “Aku arep neng ngendi?”. Mereka tidak tahu ke mana mereka akan pergi, kecuali berbekal asumsi bahwa mereka harus berlari ke arah yang lebih tinggi untuk menjauhi bahaya. Jikalau benar terjadi gelombang tsunami, secara matematis mereka tidak akan selamat, karena kecepatan berlari mereka kalah jauh daripada luncuran sang tsunami.

Beberapa jam kemudian, rumahsakit dan klinik telah menjadi tempat yang paling ramai daripada mall dan pusat perbelanjaan. Tidak hanya yang menderita patah tulang ataupun cedera kepala, namun juga tubuh-tubuh tak bernyawa ditimpa reruntuhan bangunan yang selama ini melindungi mereka. Keterbatasan daya tampung rumahsakit serta jumlah tenaga medis, memerlambat penanganan atas korban gempa. Hingga hari kelima sejak gempa melanda, beberapa dusun dan kecamatan di Kabupaten Bantul—daerah gempa dengan kerusakan terparah—belum tersentuh oleh bantuan yang datang bertubi-tubi dari dalam maupun luar negeri. Semua terantuk pada keterbatasan akan distribusi bantuan.

Allahu Akbar... Allahu Akbar...Rangkaian frase yang digumamkan dari mulut seorang korban gempa saat dipapah oleh seorang perwira polisi dan seorang sipil, seketika adalah ucapan yang keluar dari lubuk hati manusia yang paling dalam. Akhirnya kita pasrah dan mengakui kebesaran-Nya secara tulus dan sebenar-benarnya. Kesadaran akan keberadaan kita sebagai makhluk yang super-terbatas, dibangkitkan oleh sebuah getaran ‘kecil’ dari palung Samudera Hindia.
Baca selengkapnya..

Design by Dzelque Blogger Templates 2007-2008